Review Cokelat Rasa Terasi Pedes Beud

Review Cokelat Rasa Terasi Pedes Beud

chocolateblog.net Pada artikel kali ini kami akan memberikan artikel mengenai  Review Cokelat Rasa Terasi Pedes Beud. Berikut ini artikel yang memberikan ulasan dan pembahasan mengenai Review Cokelat Rasa Terasi Pedes Beud

Ketika melakukan wisata sejarah ke Kotagede, Yogyakarta, pelancong bisa mampir ke showroom sekaligus pabrik Cokelat Monggo. Letak pabrik cokelat ini berdekatan dengan sejumlah situs Mataram. Tepatnya di sebelah timur laut situs Watu Gilang dan sebelah selatan Makam Raja-raja Mataram.

Pemilik pabrik Cokelat Monggo, Thierry Detournay menceritakan awal mula dia membuat pabrik cokelat. Pada 2001 warga negera Belgia itu datang ke Indonesia dan bekerja sebagai dosen Bahasa Prancis di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.Thierry Detournay membawa bekal wajib berupa cokelat. Sebagaimana orang Belgia lainnya, dia terbiasa makan cokelat setiap hari. Hari demi hari, stok cokelat dari Belgia yang dia bawa mulai menipis dan habis. Thierry Detournay akhirnya mencari cokelat di Yogyakarta hingga kota-kota di sekitarnya.”Saya mencari cokelat ke mana-mana. Kalaupun di supermarket ada cokelat, tapi kondisinya sudah setengah meleleh dan rusak,” kata Thierry Detournay saat ditemui di showroom-nya di Kotagede, Yogyakarta, Sabtu, 27 April 2019. Sayangnya, dia tidak menemukan cokelat dengan cita rasa seperti cokelat Belgia yang biasa dikonsumsi.

Ekspatriat kelahiran 2 Maret 1966 di Saint Agathe, Belgia, itu akhirnya memutuskan menyalurkan hobi masaknya. Thierry Detournay mulai mencari resep cokelat Belgia dan membuatnya sendiri. Bahan cokelat didapat dari sebuah pabrik cokelat di kawasan Yogyakarta biasa mengekspor cokelat.Setelah uji coba di dapur, jadilah cokelat truffles sebagai produk pertama Thierry Detournay yang dibagikan kepada teman-temannya. “Mereka bilang cokelat buatan saya enak. Itu membuat saya bersemangat untuk menjualnya,” ucap dia. “Tapi bagaimana cara berjualan? Aku kan tidak belajar bisnis?”

“Aktivitas Thierry Detournay yang pernah mengurusi anak-anak jalanan memunculkan ide untuk berjualan cokelat di jalanan. Saat itu, dia sempat berjualan di Malioboro dan agenda Sunday Morning alias sunmor di kawasan UGM setiap akhir pekan.Sejak pukul 05.00 samapi 07.00, Thierry Detournay menjaga lapak berupa Vespa berkelir pink yang diberi taplak. Semua produk cokelat buatannya dipajang di atasnya. Biar awet dan tak meleleh, dia juga membawa kotak es. “Saya lupa waktu itu harganya berapa. Yang penting semua orang coba dulu,” kata Thierry Detournay mengenang.Dari situ semangat belajar berbisnis menguat. Thierry Detournay ingin membuka toko, kemudian mendirikan pabrik cokelat ala Belgia. Terbayang impiannya menciptakan konsep cokelat berkualitas tinggi. Dan supaya laku dibuat konsep oleh-oleh Yogyakarta. Jadilah nama “monggo” sebagai merek.

Baca Juga : Cokelat dan Wine Bisa Panjang Umur

Dalam bahasa Jawa, kata “monggo” berarti silakan. Umumnya masyarakat Jawa mengucapkan kata ‘monggo’ sembari mengacungkan jempol tangan kanan ke atas dengan punggung agak membungkuk yang merupakan gestur sopan santun. “Jadi saya pilih nama Cokelat Monggo karena itu Jawa banget. Apalagi aku tinggal di kampung. Monggo jadi kunci cokelat ini,” kata Thierry Detournay.Pada 2005, berdirilah showroom sekaligus pabrik kecil dengan nama Chocolate Monggo di Purbayan, Kotagede, Yogyakarta. Marketing Communication Chocolate Monggo, Aji Prasida mengatakan saat ini ada tujuh showroom Cokelat Monggo. Selain di Kotagede, ada juga di Tirtodipuran Yogyakarta, Bangunjiwo Bantul, Hartono Mal Sleman, Terminal A dan B Bandara Adisutjipto Yogyakarta, serta di Darmawangsa Square Jakarta. Di Bangunjiwo juga didirikan Museum Cokelat dan pabrik baru.Dalam sebulan, Cokelat Monggo bisa menghasilkan 300 potong cokelat dengan harga mulai Rp 21 ribu sampai Rp 280 ribu. Thierry Detournay masih fokus memasarkan Cokelat Monggo ke sejumlah kota besar seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Denpasar. Dia belum menyasar untuk ekspor. “Saya ingin bikin cokelat yang berkualitas untuk orang Indonesia. Kalau mau dijual ke luar negeri, itu beda tujuannya,” katanya.